News

Kuthoku, Ungaran ing Saiki

Sugeng rawuh ing ungaran,
Kutho ku,
Omah e awake dewe,

Ungaran saiki sepi
Toko lan kantor tutup
Pasar, panggonan wisata, restoran, ora ana sing tuku

Awak e dewe ora iso dolan bareng
Ora popo
Adoh2an dhisik
Sing penting kabeh sehat, bagas waras

Yen pagebluk iki wis lewat
ketemu maneh neng pasar senggol,
ben minggu,
kowe mbonceng aku
Dewe jajan pecel karo ngombe dawet
Neng asjo ungaran

Misa Ekaristi Virtualku

“… siapkan kuota yang cukup dan ketersediaan jaringan internet …”.

Demikian kudengar melalui youtube yang selalu kumode ‘on’ kan hingga mengusik sanubari untuk melanjutkannya. Kulihat imam berjubah putih dengan stola berwarna ungu membacakan aturan mengikuti misa online. Kuikuti dengan serius dari studio musik tempat bercengkaramaku 24 jam. Kutanggalkan sejenak aktifitasku dan sedikitpun aku tanpa nyambi kegiatan apapun selain hanya memandangi tabernakel di belakang altar itu. Ini seperti meja hijau penghakimanku, pikirku.

Ku maksimalkan layar LED 4 kotak menjadi screen persis didepanku dengan audio surround seolah benar-benar aku berada di depan altar. Benar-benar kumencoba masuk mengikuti prosesinya. Napas tersengal melihat apa itu? Pernah mengenalinya, dan seakan misteri menjadi tak ingin ku sedikitpun melewatkannya. Rasa penasaranku berkecamuk dan kupadamkan lampu agar lebih cinematik. Ohh … , lebih hikmat, khusuk dan sepertinya ada algojo mengawasiku dari belakang sana siap dengan cambuk dan pedangnya.

Sepertinya sulit merasuk kedalam batin ini, mengingat kegersangan jiwa yang sedikitpun tak pernah kupupuk. Logika selalu mendahului hatiku bahkan ingin menguasai sepenuhnya. Untung niat ini lebih kuat, sehingga mampu meredam daya nalar itu. Karena jiwaku haus , kering dahaga, laksana rusa mendamba seteguk air. Air yang kini habis untuk cuci tangan. Semua manusia beramai-ramai cuci tangan karena takut ajal.

Lantunan nada indah yang sudah pernah melekat itu mengggugah birahiku untuk semakin menyimak. Bersahutan antara pastur denganku, walau kadang kumelodikan dalam batin. Menjadi satu dan lentur, pori-pori jiwa mulai terbuka menerima urapan sabda. Bagai air segar menumbuhkan humus yang telah lama lapuk tertimbun kerasnya kepala. Semakin dalam dan tak sadar aku dimana sejatinya tubuh ini. Yah, ternyata aku bersamaNya. Aku tahu setelah sadar pipiku basah karena tetesan air mata. Air mata yang sekian tahun membeku. Mengapa mencair dengan sendirinya. Terpaksa karena ternyata akupun takut ajal menjemputku.

Ahhh … Kulihat ternyata mereka bukan algojo, bukankah mereka malaikat Tuhan yang sangat ramah murah senyum? Oh damainya hati ini. Aku merasa ada urapan yang entah bagaimana rasa ini pernah ada. Tolong jangan segera sirna kesempatan ini. Aku sendiri, bersama malam penuh bintang kulihat diluar sana. Kutengok dari jendela seperti kota mati tak ada pergerakan, kecuali di layarku. Aku benar sendiri dan hanya bersamaNya.

Aku kini tak malu karena aku disini sendiri, lepas dari cibiran mereka yang sekian lama terus menghantuiku. Kecamuk memprovokasiku untuk mendendam.

Komuni Batin

Saat komuni batin, kusenandungkan lagu ini yang sudah lama kuidamkan “kulo adreng, badhe nampi, Saliro Tuwin Rah Dalem, manah ngantu-antu Gusti, kang paring kabegjan jati, Enggal Rawuho Gusti” yang sangat kuhafal diluar kepala.

“Tuhan datanglah secara rohani ke dalam hatiku” bisikku membayangkan sakramen itu.

Yah, aku mulai memanjatkan terus, puji dan syukur, tentang semua dan semua yang lama kupendam. Panjang dan lama sekali hingga setengah tidurku melayang hampir gelimpang. Semoga Tuhan menerima doaku, mengingat aku masih tak yakin dengan tanda salib yang aku buat tadi. Sepertinya salah dan terbalik, tak ada yang melihat dan menegurku karena kusendiri. Berapa tahun tanda itu tak kujejakkan. Ah entahlah yang terpenting rinduku terobati dan doa kumadahkan.

Aku tahu misa streaming ini tak bisa menggantikan sakramen ekaristi. Tapi akankah berlanjut ‘komuni batin’ ini? Dunia memang misteri. Kali ini aku mengambil kesempatan menghadirkan tubuh Tuhan dalam batinku.

Kali ini aku mengambil kesempatan menghadirkan tubuh Tuhan dalam batinku.

Sandal Jepit Sangklir

Tak seperti bisasanya, aku benci komuni yang dulu itu. Karena yang terjadi adalah saya hanya duduk menyesali diri saat mereka komuni. Aku hanya sandal jepit, itupun sangklir lusuh dan pernah bedat (putus). Tak layak ditempatkan didepan, cukup ditaruh dibelakang, walau sejatinya selalu dipakai.

Aku hanya sandal jepit, itupun sangklir lusuh dan pernah bedat (putus).

Kala itu, tiba penerimaan sakramen, aku terpaksa duduk berdiam diri mendengar ‘auto pagging” dari orang yang benar-benar suci menggemakan himbauan : “Yang diperkenankan menerima Komuni adalah mereka yang sudah dibaptis atau yang sudah diterima secara resmi di dalamnya, sudah menerima Komuni Pertama, dan tidak mempunyai halangan

Kumenyesali atas dosa besar yang pernah kulakukan dan hanya berdiam diri tanpa beranjak sedikitpun. Kusadar akan sandal jepit sangklir yang kukenakan. Beberapa orang disebelahku sudah mulai bangkit berdiri dan menyapaku, “permisi mas, apa nggak komuni? …” katanya sambil melangkah kesulitan didepanku, gang yang sangat sempit.

Aku hanya menggelengkan kepala. ” …. ” Entah karena keluguan atau kejujuranku. Aku merasa tidak beres dengan diriku. Lebayyy … iya terserah eloe …

Sementara semua berbaris antri maju, hanya kami yang tersisa beberapa gelintir saja. Adalah penghakiman yang kejam, karena mereka semua hanya melirik dan ‘mbatin’, dosa apa yang diperbuat? Mereka tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, dan aku sangat ingin mengklarifikasi tapi tak kuasa. Maaf, kok tiba-tiba malah teringat lagu ‘Tatu” karya Didi Kempot : “Opo aku salah, yen aku kondho opo anane…”

Kuterima saja, kemudian mereka kembali ketempat duduk dan lagi-lagi ada pertanyaan “permisi mas, apa nggak komuni? …” katanya sambil melangkah yang kedua dan tak perlu kujawab.

Dari kejauhan, kulihat ada ‘begal’ yang pun ikut dalam barisan komuni itu. Mengapa ia sudah boleh menerima? Mungkin sudah ada penebusan dan pengakuan atas dosanya. Atau jangan-jangan ada orang dalam yang berhasil menggeretnya? Ah, biarkan itu urusan mereka. Aku masih bersikukuh dengan kekurangpantasanku.

Misa Online Berlanjutkah?

Semoga misa virtual secara online ini masih berlanjut tak berhenti hingga karena korona menghampiri. Kami adalah sang pendosa, namun berusaha tetep setia. Kami perlu di sapa dan sadar akan keselamatan dunia akherat. Menunggu jawaban sambil membenai sandal jepitku, yang sangklir kucat ulang agar terluhat sama kanan dan kiri. Yang bedat atau putus kusambung lagi menggunkan kawat yang dilelehkan agar seolah utuh.

Walau sakit rasanya jika kupakai, tidak melulu sarana baru untuk hidup baru, biarkan sakit itu merongrong jiwaku. Aku yakin Gusti akan menggandakan anti body yang ada dalam diri hingga sakit itu menjadi tidak terasa karena buah penebusan.

Berkah Dalem.

Corona

gambar : muslimin

dekatmu_bahu_tai

jauhku_terasa_wangi

“Kita yang seharusnya saling dekat kini harus menjaga jarak. Tak perlu cemas, karena aku masih bisa merasakan sakit yang engkau derita walau saling menjauh, bahkan tak saling kenal. Hebatnya ruang semesta ini. Doaku semoga lekas pulih saudaraku semua.” -db-

Ratu Sejagat

Cipt. Didiek Buntung

Dino iki rep tak sandhing sliramu
Susah bareng, … seneng bareng, wes ben karo mlaku
Kowe bakal dadi sigaran nyawaku
Igaku, … atiku … dadi pilihanmu

Cewek :
Dhewe tak gadhang langgeng tekan tuwo
Aku tibo, … aku loro, … tulung mbok tangekno
Sedino iki ngundang kabeh bolo
Kowe Rojo … aku sing Ratu …. Ayo padha pesto

Reff
Cowok :
Ngono manjamu
Sak karep-karepmu
Polah gaya mu
Koyo Ratu Sejagad

Cewek :
Seneng atiku
Wes dadi bojomu
Ambruk aku, cium aku
Kabeh ki duwekmu

Misteri Gudangku (01)

Sudah berjalan hampir 2 tahun aku menjadi tuan rumah bangunan tua itu. Tanpa merubah tatanan sedikitpun, kami memanfaatkan semua ruang yang sudah ada. Ada hanggar yang kami manfaatkan untuk gudang bekakas kayu, ada beberapa kamar dengan akses langsung outdoor yang kami pakai untuk mess teman nguli, dan ada hamparan lahan kosong sehingga kami bisa beternak unggas serta buat kolam ikan. Sayang seribu sayang, pohon-pohon yang rimbun tak terawat membuat mati suasana. Sekitar 2000 meter persegi lebih tanah dengan bangunan bertingkat model lawas bak negeri antah berantah. Berserakan masih dengan wajah aslinya, karena kami tak menyentuhnya dengan cat sedikitpun. Kami biarkan apa adanya.

Pertama kali masuk, jelas merinding dan kami saling menoleh diam, jelas pikiran kami sama, sepertinya ada penghuni lain selain kami

Lorong demi lorong kami telusuri, menyapu sarang laba-laba yang telah menghitam. Menjadikan tubuh kami lungset menyapunya. Jelas bau anyir menyerang sana sini. Dan kami simpulkan bahwa harus ada pembersihan total. Baik yang kelihatan ataupun yang tak kasad mata.

Kami berupaya pendekatan -pendekatan, lewat nujum, kyai, ahli-ahli taurat dan semua kami ‘jawil’ demi kenyamanan kedepan. Semua sisi kami sorot lampu hingga kebun-kebun rimbunpun kami sorot sokle. Adalah mbah John Gemblung (kami memanggilnya) orangnya pendek berisi dan berambut gondrong sedengkul penjaga gedung itu. Yah, nampaknya beliau sudah bersenyawa dengan makhluk-makhluk itu rupanya dan setiap malam melakukan ritual bakar dupa. Beliau yang mengenalkan gedung itu agar aku pinang.

Aku lakukan hal-hal yang wajar saja. Pertama kami kerahkan team untuk disemprot dan bersih-bersih. Kemudian kami pasang CCTV 20 titik agar setiap sudut aku bisa merekamnya. Karena aku penasaran dan nggak klik dengan frekwensi mereka. Aku sangat penakut, namun jiwa keingintahuanku sangat tinggi hingga ku gali lebih dalam. Maka aku bertahun ikut tidur bersama mereka. Cukup beralaskan karpet dan seadanya. Jika tak percaya boleh cek keadaan kamarku. Masih dengan cat seadanya tanpa kurubah. Jika terbangun pagi, tubuh sudah kotor oleh rontokan atap yang tersapu angin. Aku sengaja tidur dengan anjing, karena katanya mereka lebih peka terhadap hal-hal ghoib. Menggonggong ditengah malam tanpa ada musabab adalah hal biasa.

Aku sangat penakut, namun jiwa keingintahuanku sangat tinggi. Maka aku bertahun ikut tidur bersama mereka. Cukup beralaskan karpet dan seadanya.

Sekawan

Kami semua tidur seadanya, bahkan tanpa kasur termasuk aku. Aku selalu bersama mereka. Aku juru dapur, selalu masak buat mereka. Namun aku malas beres-beres cuci piring. Hal yang sungguh menyesal jika melewatkan mereka untuk tak menyiapkan makan. Walau aku luar kota pun aku selalu telepon. Bagaimana sarapanmu? Sudah makan malam belum?

Kami adalah sekawan jantan. Yang berkreasi dan berkumpul untuk sesuatu hal positif. Naluri kami lebih lembut dan saling mengasihi. Tak tahu apa yang akan kami kerjakan untuk esuk hari, tapi kami yakin Gusti Ora Sare. Yang terpenting kebutuhan keluarga kami bisa tercukupi.

Walau kadang ada isterinya yang protes kirim pesan whatsap begini : “pak, gajinya kok cuma segini?, untuk keluarga nggak cukup”

dan kujawab : “hidup itu pilihan, silakan pejantanmu suruh memilih” Kami disini bukan buruh kerja. Hanya berinovasi dan mencari inspirasi baru. Gaji itu adalah bonus yang patut disyukuri.

Kami disini bukan buruh kerja. Hanya berinovasi dan mencari inspirasi kreasi baru. Gaji itu adalah bonus yang patut disyukuri.

Kami pun mulai bangun pagi, setelah bangkit sadar dari tidur semalaman. Beberapa bersih bersih rumah, ada yang angon bebek, ada yang kasih makan ikan di kolam, ada yang cangkul tanam ubi dan ada yang masih tertidur karena begadang hp miring (main game) termasuk anakku. Kami tak mempermasalahkannya dan itulah keakraban kami dan saling memahami.

Tak ada aturan, milikmu milikku , makananmu makananku semua dalam keterbukaan. Puji Tuhan dari awal hingga kini tak ada satupun yang baku hantam berseberangan. Kami saling support.

Keraton Ayu

Suatu malam, ketika kami sedang duduk, tiba-tiba salah satu anggota kami, gombloh namanya, tiba-tiba berjalan dengan tatapan kosong. Dia berjalan lurus mengarah ke tempat rerimbunan bambu, padahal didepanya persis adalah jurang. Spontan kami beranjak lari menghentikan langkahnya seraya menggeretnya.

“Mbloh awas jurang, mau kemana?” Seru kami.

“Aku mau kesana dipanggil putri cantik bermahkota” jawabnya. “Itu disana ada keraton dan nampak terang” lanjut gombloh.

Kami cek tak ada apa-apa dan mbah john yang kami andalkan hanya tersenyum tak mau menjelaskan. Kuyakin pasti menyimpan sesuatu. Ketawa kecilnya semakin mengongkak penasaranku yang tinggi.

Akhirnya gombloh tersadar dan bolak balik kami tanya kamu pura-pura atau pingin bikin sensasi? Jawabnya : “benar, saat itu digeret kesana?” Yah barangkali stress karena peristiwa jungkelnya truk yang ia bawa.

Pompa Ajaib

Karena tandon air terlalu rendah, air gak bisa mengaliri lantai 2 bangunan itu. Akhirnya kami pasang pompa air listrik. Karena jarang dipakai, listrik kami cabut dan terputus hingga sekarang. Tiba-tiba terdengar semburan yang kencang memenuhi bak mandi atas. Kita tengok kran terbuka dengan air menyembur. Padahal pompa air mati dan aliran listrik putus total. Hingga kini belum terpecahkan misteri ini. Tandon air pun sering habis dengan sendirinya. Kapan kalau ada waktu akan aku telusuri secara logika ilmiah. Pasti bisa dan itu bidangku. Mungkin ada pipa lain yang tersambung.

Suara

Suara-suara menangis, mendengkur dan suara aneh adalah sering kami dengar tanpa wujud. Kami diam dan terbiasa akan hal itu. Untuk itu kami abaikan. Pernah aku merekamnya dan kuunggah di facebookku. Adalah si abed yang sering begadang hingga larut pagi. Katanya sudah terbiasa dengan suara-suara itu.

Kaos Gendruwo

Yah ada cerita lucu lagi, istriku ndelalah saat tidur disitu sendirian tiba-tiba terbangun oleh pria berbadan besar bukan main. Sosok gendruwo kemudian lari lewat jendela. Dikejar hingga kaosnya terjepit di jendela. Suara gemuruh menyertai. Akok kok sangsi sekali. CCTV tak merekamnya. Saat kutanya kebenarannya bahwa dia benar-benar meyakini hal itu. Hingga tak berani lagi tidur di sana sendirian.

Pagar

Tentang pagar gedung ini hati-hati ya, sudah banyak memakan korban. Ada yang kegencet rel, ada yang kejatuhan, ambruk dan sebagainya. Jangan langsung sebelum diijinkan penjaganya. Lebih baik bersabar sambil nunggu yang empunya membukakan.

Mobil

Saya kira masih banyak cerita-cerita kecil disitu. Kapan suatu saat akan kuulas secara lengkap. Sekarang aku ingin bercerita tentang kejadian yang baru ini yang lumayan membuat bingung. Adalah tentang mobilku yang tiba-tiba berjalan sendiri. Kemaren istriku dari rumah menuju gudang tua itu. Ndelalah saat itu lengkap dan saya pun disitu. Tiba-tiba kudengar suara jeritannya :

“Tolong-tolong … ! Tolong aku ketabrak mobil” teriaknya.

Kami bergegas menuju keluar dan isteriku sudah terhimpit antara mobil dan pagar. Mobil mendorongnya menabrak pagar dan menghimpit tubuhnya. Untung respon kami cepat berkat kesigapan warga dan anak sekolah smp depan.

Kami cek CCTV, ternyata istriku mau masuk, mau buka pagar. Mobil berhenti dan versneleng di posisi P (parkir). Kesaksian Sandy yang pertama mengecek, bahwa kondisi memang sudah di P tapi belum di handrem. Harusnya, walau belum di handrem, jika posisi P mobil tetep berhenti. Tapi ini tidak.

Setelah posisi P, isteriku turun dari mobil. Mobil masih berhenti gak bergerak sama sekali hingga berjalan kaki menuju pagar. Saat mau membuka kunci pagar, tiba-tiba dari arah belakang persis mobil melaju secara tiba-tiba lumayan kencang dan menyundulnya dari belakang. Peristiwa ini menjadikan terdorong dan terhenti oleh pagar yang masih terkunci.

Apakah mobil jika dalam posisi P masih bisa melaju? Sepertinya tidak. Tapi ini kenapa? Perlu saya cekkan kelayakan Honda Mobilio yang masih disekolahkan itu.

Belum sempat ngelanjutin …. entah kapan kubuat cerita cinematinya dengan bumbu-bumbu drama.

Husky “Gintung”

Anjing ini genap satu tahun menemaniku. Kupinang dari seorang sahabat dari dataran tinggi kopeng Salatiga. Berbulu tebal dan kini malah bertambah cantik menggemaskan. Ras husky stambum bersertifikat ini konon katanya keturunan serigala dan sering dipakai untuk menarik kereta salju. Kuberi nama Gintung, teringat anjingku yang sangat kusayangi berasal dari hutan Gintungan Kec. Bandungan. Dia tewas di racun orang tak bertanggung jawab. Jadi sedih mengingatnya.

Si Gintung ini suak banget sama susu, butter dan sejenisnya. Nggak begitu doyan sama daging kecuali salmon. Kalau kalian bawa sesuatu susu, keju atau butter, dah pasti akan tercium. Ditutup serapat apapun penciumannya mampu menembusnya. Nggak galak, friendly tapi ‘ndableg’

Manja dan selalu ingin disampingku. Beda dengan Brunno (rottweler) dan Zopla (malinois). Aktifitasnya ada di IG @huskies.gintung.

Gintung sudah jelajah dari Anyer hingga Panarukan, bahkan beberapa kali pernah menyeberang ke pulau Dewata. Pernah ke pantai Anyer, Tanjung Lesung, dll. Pantai adalah tempat melepas penatnya. Beberpa pantai yang di kunjungi selain itu adalah Kendal, Tuban, Klayar pacitan, Watu karung pacitan, Lamongan, Samas Jogja, Krakal jogja, Kebumen, dan yang nggak terhitung ya di Bali. Ada pandhawa, sanur, kuta, legian seminyak yang setiap hari setiap nginap disana.

Buat apa? ya buat teman dan obat agar hidup ini bisa mengalir. Cukup sekian.

Malam

Tengah malam ku terbangun dan seperti candu, bergegas ingin membuat sesuatu. Tulisan, lagu atau acara semauku. Bersama malam aku bisa cerita, bersama malam aku berselancar tentang maya, bersama malam kusetubuhui pianoku, bersama malam ku tak sendiri, bersama malam kugoreskan tinta, bersama malam kujemarikan tuts. Bebas lepas di ruangan yang kedap suara, bergantungan perkakas yang kusuka, pengeras suara, busur panah, google wall, live cam, tak bisa kusebut satu persatu. Menjadi egois enggan bergaul. Ya itu lemahku, yang akan segera semerbak menjadi lentera kota ini.

Kubuka jendela duniaku, facebook, Instagram, whatsap, twitter, linkdin, line, semua mode on dan itu juga micro stage yang tanpa batasku. Gemerlap lampu hijau dan beberapa notifikasi pesan mulai masuk. Beberapa teman mulai tak acuh dan bersapa : “Jam segini kok belum tidur, jaga kesehatan” kujawab ya saja. Yang lainya juga bertutur demikian “Jaga kesehatan” kuiyakan juga. “Kok melek bos” ada yg bersapa juga demikian. Terima kasih sudah diingatkan.

Tapi perlu diketahui bahwa justru bersama malam aku masih bisa ada seperti sekarang ini. Engganku kepada siang yang sangat menekanku tanpa memberi kebebasan. Belenggu mencengkeram tanpa ampun. Terang itu jelas menyinari asa yang justru menakutkan. Pikiran berkecamuk tak ada ruang untuk berimajinasi. Semua berlomba mencari kebenaran dihadapan Tuhan. Aku bener-bener mendengar maling berteriak maling minta tolongnya kepada Tuhan. Hingga kusangsikan kebenaran.

JERAT

Malamku bisa tertawa mencurahkan segalanya lewat apapun yang ada. Sendiri ini semakin indah tanpa menjeratku. Yah, aku takut dengan jeratan yang telah bertahun menubi menyerangku. Berkedok ikatan yang tanpa ampun telah memasungku. Bagi mereka malam ini gelap namun tidak bagiku. Karena justru gelap ini, aku bisa melihat segalanya dan tertawa terbahak bahak kepada sunyi dan diam. Akhirnya jerat takut kepada sang malam. Setiap malam jerat hanya mendengkur tapi tak mampu memecah kesunyian. Melelehlah jerat itu melurus sebanding dengan kegelapan.

Stop, mau melanjutkan tulisan ini, teringat pesan kakakku, awas jangan terlalu vulgar kepada publik. Tak semua harus dicurahkan. Simpan saja dan kubur dengan baik.

Namun mengganjal rupanya, ingin berbagi bahwa ada manusia unik di dunia ini yang tak layak hadir sebenarnya. Hanya ingin mengisi sisa usia yang ada sebaik mungkin. Berkarya semampunya sebelum keranda menjemput.

Next title … SENDIRI

Asjo Ungaran

Sekitar 200 meter dari tempat tinggalku adalah sebuah alun-alun yang lumayan besar dan terpadu lengkap dengan segala fasilitasnya. Ada air mancur yang warna-warni, gedung serbaguna, pusat kuliner, jogging track, skyboard track, panjat tebing, dan panggung permanen. Semua dalam balutan desain masa kolonial. Ada menara pengintai, ada tugu bung karno membawa tongkat sakti, bahkan panggung pun demikian, seolah-olah meurupakan benteng kuno memakai teralis jeruji besi.

ASJO

Alun-alun Bung Karno Ungaran namanya, namun sebagian orang lebih familiar dengan sebutan ASJO (Asmara Jowo). Kisah singkatnya, dulu pusat keramaian kota Ungaran ada di sepanjang jalan asmara (jl Ayani). Semua pedagang dan aktifitas-aktifitas masyarakat tumplek blek di sepanjang jalan itu. Terutama di depan masjid agung yang berhadapan persis dengan rumah dinas bupati. Terlalu krodit karena aktifitas pemerintahan, keagamaan, olahraga, kesenian dsb terpusat di titik ini dan setiap kali ada acara dipastikan macet. Kemudian pemerintah mengakmodir itu semua dan dipindahlah ke kalirejo ungaran yang tak jauh dari tempat itu (1km). Biasa, awalnya berbelit karena masyarakat tak mau pindah merasa sudah nyaman. Sehingga muncul ‘satire’ bahwa disana itu asmaranya jowo, disingkat ASJO. Lama kelamaan masyarakat move on sendiri..Mungkin seperti itu kisahnya.

PASAR SENGGOL

Kini tempat itu tak pernah sepi pengunjung mulai dari pagi, siang hingga malam. Jadwal acara dari kapitalis pun kian padat termasuk beberapa artis beken nasional yang pernah manggung disitu seperti Via Vallen, Ari Lasso, Didi Kempot, dll.

Dan yang kusuka adalah rutinitas Pasar Senggol setiap hari Minggu pagi. Datang kesitu sebentar bisa melepas penat setelah sepekan melakukan kegiatan. Bisa jogging, senam zumba, lihat satwa, lihat berbagai atraksi, ketemu teman, ketemu mantan, dan dapat kenalan/senggolan. Dan ini yang jangan sampai pernah terlewatkan adalah sarapan gendar pecel pelas. Puluhan bakul menjajakan makanan ini dengan tempat yang seadanya, lesehan. Komunitas-komunitas saling berlomba menunjukkan eksistensinya merebut hati khalayak. Eh,, bagi yang suka baca disitu juga ada perpustakaan keliling. Padat, merayap, berhimpitan dengan sesama pemgunjung yang rata rata belum mandi. Kalau ketemu teman nggak berani beraruh sapa, hanya mengangguk saja itu pertanda nggak gosok gigi. Ha ha …

Jangan emosi jika ber-SENGGOLan dengan pengunjung lain, sapalah dengan akrab agar tambah paseduluran. Tapi juga hati-hati jangan terlalu ganjen dan kenes.

LAGU

Tergerak hasrat ini untuk memadukan dalam untaian nada dan lirik melihat sisi-sisi Asjo Ungaran. Ternyata memang sesuai dengan namanya, Alun-alun Asmara Jawa tak jauh dengan cerita-cerita asmara dahana. Yah berkali-kali ku melihatnya dari pagi anak sekolah hingga siang dan sore bahkan hingga larut malam banyak yang bercengkerama menyatakan cinta. Bahkan kadang ada yang kecewa seperti drama, pilih pulang cari yang lain. Kok tahu? Iya saya pernah muda.

Begini lirik itu :

Neng kene dhewe kenale, 
jalaran pasar senggole
Aku, …  wes ngrasakke jajanane
Gendare …  ro gembuse … lan apeme … 
Bakule  pepak ayune ora sepele
 
Kowe njalari atiku, 
kesengsem marang polahmu
Aku, … kejebak neng njeromu
Saiki, … kwe mblenjani … malah nglarani … 
neng Asjo Ungaran pegunungan asri
 
 
Reff.
Mnara kembar,  … iki
Sing wus dadi seksi
Ambruk siji mergo tak tangisi
 
Tongkat Sakti, … kae
Bung Karno nudhinge
mBukak dalan liyoku,  to tol kene

Kupersembahkan untuk kotaku yang sebentar lagi akan ulang tahun di Maret 2020 besok katanya, saya nggak tahu pastinya. Semoga bisa mengangkat kota kecilku ini untuk banyak dikenal. Teringat kata-kata Ari Lasso saat konser di kota ungaran begini : “Saya baru tahu kalau ada kota kecil yang sejuk asri disini, dan begitu indah” katanya sambil menyuruh penonton menyalakan flash HP untuk diupload di IG nya.